Logo MarginInMarginIn
← Semua berita

21 Agustus 2026

Harga Telur di Peternak Masih Anjlok — Buat Usaha Makanan, Ini Jendela Murah yang Ada Batasnya

harga-bahan-bakuhppusaha-makananpeternakumkm

Kalau belakangan belanja telur terasa lebih ringan dari biasanya, itu bukan kebetulan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui harga telur di tingkat peternak masih belum membaik — dan pemerintah sedang menyiapkan intervensi supaya harganya naik lagi.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan lewat keterangan tertulis pada Kamis (20/8/2026) bahwa pihaknya mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan hingga 150 ribu ton. Usulan itu sudah dikirim ke Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk dibahas dalam rapat koordinasi terbatas.

Angkanya

Pantauan Bapanas per 19 Agustus 2026:

  • Telur ayam di peternak: Rp22.978/kg — 13,29% di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang dipatok Rp26.500/kg
  • Ayam broiler di peternak: Rp24.849/kg — 0,6% di bawah HAP
  • Telur ayam di konsumen: Rp28.097/kg — masih di bawah Rp30.000
  • Daging ayam di konsumen: Rp40.639/kg

Jadi ini bukan cerita harga pangan naik. Ini kebalikannya: harga di produsen jatuh cukup dalam, dan pemerintah justru sedang berusaha mendorongnya naik ke level acuan.

Kenapa ini penting buat kamu

Kalau kamu beli telur (kue, roti, katering, warung, frozen food): biaya bahan kamu lagi di posisi enak. Tapi jangan perlakukan ini sebagai harga baru yang permanen. Seluruh niat kebijakan yang lagi dibahas adalah *menaikkan* harga di produsen ke Rp26.500/kg. Kalau berhasil, harga konsumen ikut terangkat. Yang berbahaya bukan harga murahnya, tapi kalau kamu terlanjur menurunkan harga jual atau menaikkan porsi berdasarkan biaya yang sifatnya sementara — narik balik itu jauh lebih susah daripada menahan diri sekarang.

Langkah yang lebih aman: catat selisihnya sebagai margin ekstra sementara, bukan sebagai alasan banting harga. Kalau mau kasih promo, bikin yang jelas ada tanggal selesainya.

Kalau kamu peternak unggas skala mikro atau kecil: program SPHP jagung pakan ini memang dirancang untuk kamu. Kuota 2026 sebesar 213,2 ribu ton dibagi menjadi 138,65 ribu ton untuk peternak mikro (asumsi kebutuhan 3 bulan), 50,37 ribu ton untuk peternak kecil (2 bulan), dan 24,17 ribu ton untuk peternak menengah (1 bulan). Harga tebusnya Rp5.000/kg di Gudang Bulog, dengan batas maksimal Rp5.500/kg sampai di tingkat peternak.

Syarat aksesnya: penyaluran dilakukan lewat koperasi atau asosiasi, ke anggota yang sudah terdaftar dalam SK Menteri Pertanian. Kalau kamu belum masuk daftar itu, urus keanggotaan dulu — tanpa itu kamu nggak bisa menebus harga SPHP.

Realisasi penyaluran per 18 Agustus baru sekitar separuh target, yaitu 120,31 ribu ton, tersebar di 28 provinsi. Peternak terbanyak ada di Jawa Timur (3.672 peternak) dan Jawa Tengah (2.012 peternak). Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman juga sudah menginstruksikan Bulog melanjutkan penyaluran SPHP sampai akhir tahun selama peternak masih membutuhkan.

*Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8627775/harga-telur-masih-anjlok-kuota-jagung-pakan-diusulkan-tambah-150-ribu-ton) — bukan salinan langsung.*

Ditulis ulang dari berita sumber, bukan salinan langsung. Baca sumber asli: detikFinance