Logo MarginInMarginIn
← Semua berita

23 Agustus 2026

Kredit UMKM Cuma Tumbuh 1,62% — BI: Masalahnya di Pencatatan, Bukan Uangnya

kredit-umkmqrispembiayaandigitalisasibank-indonesia

Ada satu angka dari Bank Indonesia yang bikin kaget kalau kamu lagi mikir cari modal: kredit UMKM per Juli 2026 cuma tumbuh 1,62 persen dibanding tahun lalu. Padahal total kredit perbankan ke semua sektor tumbuh 13,58 persen di periode yang sama.

Jadi bukan perasaanmu doang. Uang di perbankan memang lagi mengalir deras — tapi bukan ke arah usaha kecil.

Kenapa bank ragu

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan soal ini di acara Karya Kreatif Indonesia, Jakarta, Jumat (21/8/2026). Menurut dia masalahnya dua arah.

Dari sisi pelaku usaha: pencatatan keuangan yang belum memadai. Banyak UMKM jalan bertahun-tahun tanpa jejak angka yang bisa ditunjukkan ke siapa pun.

Dari sisi bank: asimetri informasi. Bank nggak punya cukup data buat menilai usahamu sehat atau nggak. Kalau nggak bisa dinilai, jawaban paling aman ya ditolak.

Angka risikonya juga bikin bank hati-hati. NPL (kredit bermasalah) UMKM ada di kisaran 4,5–5,6 persen, sementara NPL perbankan nasional cuma 2,09 persen. Dari kacamata bank, menyalurkan ke UMKM itu berisiko dua kali lipat lebih dan datanya paling sedikit.

Solusi yang didorong BI: bayar digital

Arahnya jelas — BI mendorong UMKM pakai pembayaran digital, terutama QRIS, supaya transaksi usaha otomatis tercatat. Kata Aida, tujuannya bikin UMKM "tercatat, terlihat, terukur", karena kalau tiga itu terpenuhi, usahanya jadi layak dibiayai.

Logikanya sederhana: tiap transaksi QRIS meninggalkan jejak. Enam bulan pakai QRIS = enam bulan rekam omzet yang nggak bisa kamu karang, dan justru itu yang bikin lembaga keuangan mau melirik.

Biar makin nggak ada alasan, BI juga sudah menyiapkan MDR QRIS 0 persen untuk transaksi sampai Rp100.000, dijadwalkan berlaku mulai Oktober 2026. Untuk usaha mikro, MDR 0 persen untuk transaksi sampai Rp500.000 tetap berjalan.

Yang bisa kamu lakukan bulan ini

  • Pasang QRIS kalau belum, dan pakai beneran. Percuma stikernya nempel kalau pembeli tetap diarahkan bayar tunai. Jejak datanya baru terbentuk kalau transaksinya lewat situ.
  • Jangan campur rekening usaha dan pribadi. Mutasi yang isinya belanja bulanan dan transferan keluarga bikin omzet aslimu susah dibaca.
  • Catat yang QRIS nggak bisa lihat. Pembayaran digital merekam uang masuk, bukan biaya bahan baku, gas, tenaga kerja, dan susut. Tanpa itu, kamu punya bukti omzet tapi nggak tahu margin — dan pertanyaan pertama bank tetap: untung bersihmu berapa?
  • Mulai sekarang, bukan pas butuh. Riwayat transaksi baru bernilai kalau panjang. Bikin jejaknya sebelum kamu perlu mengajukan.

Kredit UMKM lagi seret bukan karena banknya nggak punya uang. Yang kurang justru informasi tentang usahamu — dan bagian itu ada di tanganmu.

*Ditulis ulang dari [ANTARA News](https://www.antaranews.com/berita/5706236/bi-dorong-digitalisasi-pembayaran-umkm-untuk-perluas-pembiayaan) — bukan salinan langsung.*

Ditulis ulang dari berita sumber, bukan salinan langsung. Baca sumber asli: ANTARA News