11 September 2026
Kedelai Impor Naik Padahal Harga Dunia Turun — Perajin Tahu Tempe Nahan Harga Jual
Ada yang aneh di harga kedelai minggu ini: harganya di dalam negeri naik, padahal di pasar global lagi turun. Buat kamu yang usahanya nyangkut ke tahu, tempe, atau kedelai secara umum, ini bukan berita komoditas biasa — ini langsung kena ke HPP.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, bilang ke CNBC Indonesia pada Kamis (10/9/2026) bahwa kenaikan itu terjadi di tingkat importir. "Padahal dolar kan sedang tidak menyentuh Rp18.000 ya, harga di CBOT juga turun," katanya.
Angkanya
- Rata-rata kedelai impor nasional per 8 September 2026: Rp13.762/kg — Rp1.762 di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000/kg.
- Harga *delivery order* importir per 9 September naik dibanding 2 September: merek Bola Merah dan Hiu di Cigading dari Rp10.600 jadi Rp10.700/kg; 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang dari Rp10.600 jadi Rp10.900/kg.
- Di tingkat perajin (data Gakoptindo 10 September), Jawa masih di bawah HAP: Jabar Rp11.200–11.750/kg, Jateng Rp11.300–11.750/kg, Jatim Rp11.250–11.550/kg, DKI Jakarta Rp11.400–11.850/kg.
- Luar Jawa sudah lebih mahal: Aceh Rp13.200/kg, Sumut dan Sumbar sekitar Rp12.950/kg, Kaltim Rp12.900/kg, Sulsel Rp12.950/kg.
Jadi rata-rata nasional yang Rp13-ribuan itu ketarik daerah-daerah terjauh. Kalau usahamu di Jawa, harga bahan bakumu kemungkinan masih di kisaran Rp11 ribuan — tapi arah pergerakannya naik.
Kenapa bisa begini
Menurut Wibowo, akarnya karena pemerintah tidak menguasai stok kedelai. "Karena kita nggak menguasai pasar. Pemerintah tidak punya barang," ujarnya. Konsekuensinya, harga akhirnya ditentukan pihak yang pegang barang, yaitu importir. Stok saat ini disebut masih aman — tapi itu pun berdasarkan informasi dari importir sendiri. Gakoptindo mendorong pemerintah merealisasikan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk kedelai, yang ketentuannya sudah ada tapi sampai sekarang belum jalan.
Yang perlu kamu lakukan
Sejauh ini perajin tahu tempe belum menaikkan harga jual. Kedengarannya kabar baik buat warung dan katering yang beli tahu tempe — tapi artinya kenaikan bahan baku itu lagi ditelan sendiri sama perajin. Kalau kondisi ini terus, cepat atau lambat harga jual bakal menyesuaikan.
Tiga langkah praktis:
- Catat harga beli kedelai/tahu/tempe kamu mingguan, bukan bulanan. Pergerakan Rp100–300 per kg di tingkat DO importir baru terasa di kamu beberapa minggu kemudian.
- Hitung ulang HPP per porsi dengan harga terbaru, jangan pakai angka bulan lalu. Selisih Rp300/kg di bahan baku kelihatan kecil, tapi di volume produksi harian dia makan margin diam-diam.
- Siapkan skenario harga, bukan reaksi mendadak. Tentukan dari sekarang: di harga kedelai berapa kamu mulai menyesuaikan porsi atau harga jual. Lebih enak diputuskan sekarang daripada pas panik.
Bedanya kondisi Jawa dan luar Jawa juga penting: kalau kamu di Sumatra, Kalimantan, atau Sulawesi, kamu sudah bayar di atas HAP sekarang, bukan nanti.
*Ditulis ulang dari [CNBC Indonesia](https://www.cnbcindonesia.com/news/20260910164446-4-766998/harga-kedelai-impor-naik-begini-nasib-harga-tahu-tempe-di-pasaran) — bukan salinan langsung.*