Logo MarginInMarginIn
← Semua berita

4 Oktober 2026

Kedelai Tembus Rp11.600/kg, Perajin Tahu Tempe Pilih Ngecilin Ukuran — Pemerintah Belum Mau Intervensi

harga-bahan-bakuhppusaha-makanankedelaiumkm

Buat yang usahanya bikin tahu, tempe, atau jualan olahan keduanya: harga kedelai naik lagi, dan kali ini perajin bilang tekanannya lebih berat dari krisis 2022. Bukan cuma kedelainya yang mahal — plastik, minyak goreng, BBM, sampai ongkos kirim ikut naik, sementara harga jual tahu tempe di pasar masih di angka yang sama.

Angkanya

  • Kedelai: dari sekitar Rp9.500/kg jadi Rp11.600/kg, di beberapa daerah malah sudah Rp12.000/kg.
  • Versi Bapanas, rata-rata di Jawa sekitar Rp11.623/kg, di Indonesia Timur sekitar Rp12.097/kg.
  • Plastik kemasan PP/PE: dari Rp20.000–25.000/kg (2022) jadi Rp35.000–45.000/kg (2026).
  • Minyakita: HET Rp14.000/liter (2022) jadi Rp15.700/liter (2026).
  • Ongkos ekspedisi: kalau 2022 dihitung indeks 100, sekarang di kisaran 125–145.
  • Harga jual tempe 250 gram dan tahu 500 gram: masih Rp5.000, nggak gerak.

Data perbandingan itu disampaikan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) ke detikcom, Sabtu (3/10/2026).

Yang terjadi di lapangan: shrinkflation

Wakil Ketua Umum Gakoptindo Kusnoto bilang perajin nggak berani serta-merta naikin harga karena takut pembeli kabur. Jalan keluarnya: ukuran dikecilin. Contohnya, satu batang tempe yang biasanya dipotong enam, sekarang dipotong tujuh dengan harga jual sama.

Hitungannya begini: perajin yang pakai 1 kuintal kedelai sehari bisa dapat 22 batang tempe. Kalau satu batang dijual Rp10.000 (dipotong tujuh), omzet kotornya sekitar Rp1,54 juta per hari. Setelah dikurangi semua biaya, sisa untungnya tipis banget. Sebagian besar perajin mulai ngurangin produksi, dan menurut Kusnoto sudah ada satu-dua yang berhenti.

Pemerintah: belum perlu intervensi

Ini bagian yang penting buat ekspektasi kamu. Perajin sebenarnya berharap program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai segera jalan. Kusnoto menyebut dapat info ada skema subsidi sekitar 250 ribu ton senilai sekitar Rp500 miliar, tapi manfaatnya belum sampai ke perajin, dan skemanya baru bisa dipakai kalau harga pasar sudah tembus sekitar Rp12.500–13.000/kg.

Dari sisi pemerintah, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan menegaskan ke detikcom bahwa SPHP kedelai bukan subsidi otomatis tiap kali harga naik. Acuannya Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai impor Rp12.000/kg (Peraturan Bapanas No. 12 Tahun 2024) — SPHP baru dijalankan kalau harga ada di atas HAP. Karena rata-rata di Jawa masih Rp11.623/kg, Bapanas menilai harga "secara umum masih relatif terkendali". Mekanisme SPHP 2026 sendiri masih nunggu Keputusan Menteri Koperasi sebagai dasar penugasan ke Bulog.

Kementan di sisi lain menyebut akar masalahnya produksi dalam negeri yang belum cukup, dan tahun ini kasih bantuan benih buat 50.000 hektare dengan target produksi 50.000–75.000 ton. Itu solusi jangka panjang, bukan buat bulan ini.

Yang bisa kamu lakukan

  • Hitung ulang HPP sekarang, jangan nunggu subsidi. Kalau sebelumnya HPP kamu dihitung pakai kedelai Rp9.500, angkanya sudah ketinggalan 20% lebih. Masukin juga kenaikan plastik dan minyak — Gakoptindo sendiri bilang masalahnya bukan cuma kedelai.
  • Kalau mau ngecilin ukuran, hitung dulu dampaknya ke margin per potong, bukan cuma "dipotong tujuh". Potongan yang tadinya seperenam batang jadi sepertujuh dengan harga sama artinya harga per gram naik sekitar 17% — pastikan itu memang cukup nutup selisih biaya.
  • Jangan pasang harapan di SPHP buat ngejaga margin bulan ini. Dengan harga Jawa masih di bawah HAP Rp12.000, pemerintah sudah bilang belum akan masuk pasar.
  • Kalau kamu pembeli tahu tempe (warung, katering, gorengan), siap-siap ukuran per potong dari supplier mengecil tanpa pengumuman — cek berat per porsi sebelum HPP menu kamu diam-diam naik.

Untuk sikap resmi pemerintah soal SPHP dan HAP, detikFinance menulisnya terpisah di [Harga Kedelai Mahal, Pemerintah Belum Mau Intervensi](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8690432/harga-kedelai-mahal-pemerintah-belum-mau-intervensi).

*Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8690415/ukuran-tahu-dan-tempe-menciut-gara-gara-harga-kedelai-mahal) — bukan salinan langsung.*

Ditulis ulang dari berita sumber, bukan salinan langsung. Baca sumber asli: detikFinance →