10 Oktober 2026
Menkeu Wanti-wanti El Nino: Harga Cabai dan Daging Ayam Berpotensi Naik — Cek Ulang HPP Menu Kamu Sekarang
Kalau usaha kamu bergantung pada cabai, ayam, beras, atau telur — warung, ayam geprek, katering, nasi kotak, sambal kemasan — ada sinyal dari pemerintah yang layak kamu perhatikan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara — yang dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, dan sekarang didampingi tiga Wamenkeu: Juda Agung, Luky Alfirman, serta Nurkholisoh Ibnu Aman — dalam konferensi pers APBN Kita di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026), secara terbuka menyebut kelompok pangan bergejolak (*volatile food*) sebagai hal yang perlu diwaspadai karena Indonesia sedang menuju El Nino.
Angkanya
Data yang dipaparkan Kemenkeu menunjukkan inflasi *volatile food* per September 2026:
- 1,46% secara bulanan
- 5,03% secara tahunan
Pendorongnya adalah lonjakan harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras, seiring turunnya produksi di beberapa daerah sentra.
Suahasil menjelaskan, El Nino berarti kekeringan, dan dampaknya ke pangan akan terlihat belakangan. Komoditas yang ia minta dicermati secara khusus ada di kelompok hortikultura dan peternakan: cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam. Ia meminta seluruh instansi terkait memperhatikan produksi dan permintaan dalam negeri supaya jangan sampai ada kekurangan pasokan yang mengerek inflasi.
Perlu dicatat: yang disampaikan baru *peringatan* dan permintaan koordinasi antarinstansi, belum ada paket kebijakan baru yang diumumkan di konferensi pers itu. Jadi jangan menunggu subsidi atau operasi pasar sebagai rencana utama kamu.
Kenapa ini penting buat kamu
Lima komoditas di atas adalah bahan baku paling umum di usaha makanan skala kecil. Bedanya dengan kenaikan harga biasa, ini kenaikan yang pemerintah sendiri sudah antisipasi bakal berlanjut karena faktor cuaca — bukan gejolak seminggu dua minggu yang bisa ditunggu reda.
Masalah klasiknya: banyak pemilik usaha makanan tahu harga cabai naik, tapi nggak tahu persis berapa pengaruhnya ke HPP per porsi. Akhirnya ada dua reaksi ekstrem — nggak naikin harga sama sekali sampai margin habis, atau naikin harga buru-buru dan pelanggan kabur.
Yang bisa kamu lakukan sekarang
1. Petakan menu mana yang paling terekspos. Sambal, ayam geprek, ayam bakar, nasi ayam — ini menu yang porsi biayanya didominasi cabai dan ayam. Menu berbasis tahu-tempe atau sayur lain lebih aman. Tahu mana yang rawan bikin kamu bisa merespons per menu, bukan pukul rata.
2. Hitung ulang HPP dengan skenario harga naik. Jangan pakai harga beli bulan lalu. Masukkan harga cabai dan ayam hari ini, lalu coba juga skenario naik 10–20% — lihat menu mana yang marginnya langsung tipis. Kalau kamu pakai kalkulator HPP MarginIn, ubah harga bahan bakunya dan lihat margin per porsinya bergeser.
3. Siapkan opsi selain naik harga. Sesuaikan porsi sambal, tawarkan level pedas yang dibayar terpisah, atau geser promosi ke menu yang bahan bakunya stabil. Ini lebih halus daripada menaikkan harga semua menu sekaligus.
4. Jangan kunci harga jangka panjang. Kalau kamu melayani katering atau pesanan rutin, hindari kontrak harga tetap berbulan-bulan tanpa klausul penyesuaian bahan baku. Untuk ayam, menyetok dalam bentuk beku saat harga masih normal masuk akal; untuk cabai, nggak — cabai segar nggak tahan lama, jadi andalkan HPP yang fleksibel, bukan stok.
Intinya: peringatan Menkeu ini bukan alasan panik, tapi alasan buat tahu angka kamu sendiri sebelum pasar yang memaksa.
*Ditulis ulang dari [detikFinance](https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8699650/suahasil-waspadai-el-nino-bikin-harga-cabai-daging-ayam-naik) — bukan salinan langsung.*